Pikiran saya melayang pada saat
saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saat itu saya tinggal di rumah
kontrakan di pojokan pondok bambu, pinggir kali tanah abang. Hari itu ibu dan
ayah saya bertengkar, karena 2 hal yang selalu terus berulang, jika bukan
karena ricuhnya keluarga ayah saya yang melarang saya bersekolah karena biaya
yang diperlukan untuk sekolah menyulitkan ayah saya, pastilah karena perempuan.
Ah, saya lelah mendengar
pertengkaran ini.
saya anak perempuan yang dibela
ibu untuk sekolah malah lebih dekat kepada ayah, mungkin karena ayah lebih bisa
mengambil hati saya. Ibu lebih banyak bicara apa yang harus saya lakukan
sebagai wanita, sebagai manusia, dan sebagai hamba daripada bicara untuk
mengambil hati saya.
Dan bila pertengkaran terjadi
karena perempuan, saya yang saat itu masih dibangku sekolah dasar awal terus berfikir,
apa yang membuat ibu saya tidak terima kedekatan suaminya dengan perempuan
lain? apa yang seharusnya dilakukan seorang perempuan bila nanti dewasa?
Lalu saya mulai mengerti sedikit
demi sedikit ketika mulai jatuh cinta, ketika ada seseorang yang menurut saya
menyukai saya, ketika saya semakin dewasa saya semakin mengerti bahwa hubungan
laki-laki dan perempuan adalah hubungan yang rumit.
Saya berfikir, jika saya nanti
menikah apakah saya bisa tetap menjaga diri saya untuk suami saya? Apakah suami
saya bisa tetap setia untuk saya? Apakah saya akan bisa bertahan dengan keadaan
yang mengharuskan saya sebagai perempuan dengan kewajiban sebagai istri?
Ah, ini terlalu menyakitkan,
mungkin untuk saya, atau untuk suami saya...
Lebih baik saya tidak usah
menikah.
Bukankah itu solusi terbaik untuk
diri saya, juga untuk orang yang mungkin akan saya sakiti?
Sebelum kopi terlanjur dingin…
(Catatan seseorang di tahun 2000)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar