Selasa, 21 Maret 2017

Sebelum Kopi Terlanjur Dingin



Kopi hitam yang saya seduh masih tersisa setengah, belum sempat saya habiskan, namun sudah terlanjur dingin. Apalah nikmatnya kopi dingin.

Pikiran saya melayang pada saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saat itu saya tinggal di rumah kontrakan di pojokan pondok bambu, pinggir kali tanah abang. Hari itu ibu dan ayah saya bertengkar, karena 2 hal yang selalu terus berulang, jika bukan karena ricuhnya keluarga ayah saya yang melarang saya bersekolah karena biaya yang diperlukan untuk sekolah menyulitkan ayah saya, pastilah karena perempuan.

Ah, saya lelah mendengar pertengkaran ini.

saya anak perempuan yang dibela ibu untuk sekolah malah lebih dekat kepada ayah, mungkin karena ayah lebih bisa mengambil hati saya. Ibu lebih banyak bicara apa yang harus saya lakukan sebagai wanita, sebagai manusia, dan sebagai hamba daripada bicara untuk mengambil hati saya.

Dan bila pertengkaran terjadi karena perempuan, saya yang saat itu masih dibangku sekolah dasar awal terus berfikir, apa yang membuat ibu saya tidak terima kedekatan suaminya dengan perempuan lain? apa yang seharusnya dilakukan seorang perempuan bila nanti dewasa?

Lalu saya mulai mengerti sedikit demi sedikit ketika mulai jatuh cinta, ketika ada seseorang yang menurut saya menyukai saya, ketika saya semakin dewasa saya semakin mengerti bahwa hubungan laki-laki dan perempuan adalah hubungan yang rumit.

Saya berfikir, jika saya nanti menikah apakah saya bisa tetap menjaga diri saya untuk suami saya? Apakah suami saya bisa tetap setia untuk saya? Apakah saya akan bisa bertahan dengan keadaan yang mengharuskan saya sebagai perempuan dengan kewajiban sebagai istri?

Ah, ini terlalu menyakitkan, mungkin untuk saya, atau untuk suami saya...

Lebih baik saya tidak usah menikah.

Bukankah itu solusi terbaik untuk diri saya, juga untuk orang yang mungkin akan saya sakiti?

Sebelum kopi terlanjur dingin…

(Catatan seseorang di tahun 2000)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar