Perempuan dan Ekonomi
Dua dari tiga program unggulan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak adalah mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan mengakhiri kesenjangan ekonomi. Salah satu turunan dari program mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah memastikan setiap calon TKW mendapatkan pelatihan yang memadai.[1]
Mari kita pahami bersama, bahwa dalam kaca mata pemerintah perempuan adalah asset untuk perekonomian. Ini menyatakan bahwa pemerintah beranggapan perempuan tidak boleh diperdagangkan akan tetapi boleh ‘menjual dirinya’ jika dia punya keahlian sebagai TKW. Oleh sebab itu pemerintah memperhatikan bahwa keahlian bagi TKW adalah hal penting yang perlu disiapkan. Lantas apa bedanya? Toh tetap memperdagangkan perempuan, hanya bedanya punya keahlian. Keahlian sebagai pembantu rumah tangga khususnya. Kita tidak banyak menemukan persiapan secara khusus oleh pemerintah untuk pengiriman tenaga kerja ke luar negeri bagi perempuan kecuali sebagai pembantu rumah tangga.
Dan pertanyaan yang muncul adalah, Apakah kita merendahkan pekerjaan perempuan sebagai pembantu rumah tangga? Tidak, kita tidak merendahkan perempuan itu. Kita perlu meluruskan bersama bahwa bukan peran perempuan sebagai pembantu rumah tangga yang kita sesalkan disini akan tetapi anggapan bahwa pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga hanya pekerjaan perempuan itu tidak benar. Terlebih lagi ‘memperdagangkan’ perempuan ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga.
Kita harus pahami bersama bahwa perlindungan terhadap perempuan merupakan hal yang mutlak, dan pengiriman perempuan sebagai pembantu rumah tangga ke luar negeri sampai hari ini masih merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia. Baik itu persiapan keahlian ataupun persiapan keselamatan perempuan tersebut nanti di negara orang.
Sehingga satu hal yang bisa menjadi solusi adalah tidak hanya persiapan keahlian dan keselamatan perempuan Indonesia di negara orang, akan tetapi juga kesadaran bersama bahwa pekerjaan pembantu rumah tangga bukan saja pekerjaan perempuan sehingga akan lebih baik juga dilakukan oleh pekerja laki-laki.
Memang kalau kita bicara pengiriman TKW keluar negeri tidak akan pernah habis, terlebih jika pemerintah akan berdalih bahwa TKW merupakan pintu devisa negara yang cukup besar. Akan tetapi jika perempuan Indonesia lebih diberi kesempatan untuk berkarya di dalam negerinya tentu pemerintah akan lebih bisa melindungi perempuan tersebut daripada di negara lain yang pastinya terkait banyak hal termasuk dengan hukum negara lain.
Program unggulan kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak berikutnya adalah mengakhiri kesenjangan ekonomi. Mungkin pemerintah perlu mengkaji kebiasaan bisnis perempuan di setiap daerah. Karena kalau kita perhatikan secara lebih seksama hampir di setiap daerah perempuan Indonesia biasanya mempunyai bisnis khusus yang sesuai dengan daerahnya, jika bisnis ini bisa dikembangkan tentunya perempuan Indonesia akan bisa berkembang secara ekonomi tanpa meninggalkan daerah asalnya terlebih tetap sesuai dengan adat dan kebiasaan daerah masing-masing yang tentunya turut melestarikan budaya daerah.
Turunan program mengakhiri kesenjangan ekonomi terkait dana dan pelatihan bagi perempuan usaha. Ini mungkin nampak baik akan tetapi akan lebih baik jika ada usaha dari pemerintah untuk memastikan bahwa perempuan hidup secara ekonomi dengan baik tidak hanya menjadi pelaku ekonomi yang baik.
Kartini dan Perempuan
R.A.Kartini dalam suratnya kepada professor Anton dan Nyonya di tahun 1901, “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan, agar perempuan lebih cakap melakukan kewajibannya sebagai melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. [2]
Ini adalah hal yang cukup jelas Kartini katakan terkait kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia. Bahwa bukan menjadi saingan laki-laki dalam hidup seperti halnya saingan dalam ekonomi. Sehingga membandingkan angka pekerja laki-laki dan angka pekerja perempuan bukanlah penilaian yang relevan terhadap perempuan Indonesia. Jadi mari kita berhenti membandingkan angka pekerja laki-laki dengan angka pekerja perempuan. Mari kita berhenti membandingkan gaji laki-laki dengan gaji perempuan. Mari kita berhenti membandingkan perempuan dengan laki-laki secara ekonomi.
Mari kita memberikan hak perempuan Indonesia dengan memberikan kewajiban yang diserahkan alam sendiri ketangannya.
Dibuat dalam rangka memperingati Hari Perempuan Dunia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar