Jumat, 17 Maret 2017

ILUSI NEGARA ISLAM INDONESIA



Bahkan hingga hari ini ilusi Negara Islam Indonesia masih terus menghantui kita, bangsa Indonesia. Entah itu memang menghantui atau sengaja dibuat seakan kita dihantui. Peran penting tentulah dari media. Terlebih sekarang ini di dunia maya, opini seakan seperti sebuah fakta, sebuah sejarah seakan sebuah dongeng. Kebenaran tampak buram.
Hoax kita baca setiap hari. Menjadi sulit membedakan mana kebenaran mana kebohongan. Hanya hati nurani yang menjadi batasannya. Hati nurani yang mencintai bangsa ini, bangsa Indonesia.

Bentukan Negara Indonesia
Jika kita membaca secara bijak, tentu kita akan menemukan satu titik bahwa apapun yang ditawarkan para pejuang kita dimasa lampau untuk Indonesia adalah sebuah solusi yang menurut mereka itu yang terbaik untuk Indonesia.
Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo yang menawarkan Islam sebagai bentukan Negara Indonesia bukanlah orang yang tidak mengenal ilmu, dia belajar di sekolah Belanda dan Eropa, aktif di pergerakan nasionalisme seperti Jong Java saat kuliahnya di Surabaya, juga aktif dalam Serikat Islam. Pengalaman yang didapatkan Kartosoewiryo bukanlah pengalaman biasa, dia orang luar biasa, sehingga keputusannya untuk Indonesia menjadi sebuah Negara Islam tentulah merupakan hasil pikiran yang sudah dipikirkan dengan mendalam.
Akan tetapi Soekarno menilai bentukan itu bukanlah pilihan yang tepat untuk Indonesia, Negara Islam bukan bentukan yang tepat untuk Indonesia. Sehingga harusnya ketika Kartosoewiryo sepakat dengan Soekarno untuk tidak membentuk Negara Islam asalkan umat Islam diberikan kesempatan menjalankan syariat Islam, tidak dilanggar oleh Soekarno. Itu harusnya menjadi solusi bersama. Penghilangan beberapa kata di Piagam Jakarta membuat Kartosoewiryo kecewa lalu memberontak. Itu hanyalah satu dari sekian pilihan yang bisa dilakukan menurut Kartosoewiryo. Jiwa juang perlawanan mengalir dalam darahnya. Memberontak bukanlah keinginan, tapi sikap yang diambil setelah pengingkaran.
Soekarno bukan seorang atheis. Soekarno adalah seorang Islam yang taat. Dia hanya terlalu nasionalis untuk mengambil satu bentuk dan mengabaikan bentukan yang lain. Sehingga dia tidak menyetujui usulan Negara Islam Indonesia begitupun dengan usulan Negara Komunis Indonesia. Hal ini tentunya juga sudah dipertimbangkan Soekarno secara matang sebagai seorang Islam dan juga sebagai seorang sosialis nasionalis. Dan Pancasila adalah kesimpulan akhir yang mutlak untuk bangsa ini.

Indonesia di Masa Depan
Waktu telah berlalu cukup panjang, 71 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunjukan kemana arah bangsa ini. Bukan waktu yang sebentar untuk menunjukan apa indentitas bangsa ini.
Kita sebagai bangsa Indonesia sudah melalui masa pembelajaran yang panjang, bagi umat Islam juga bagi bangsa Indonesia pada umumnya.
Hari- hari ini kita disibukkan dengan aksi bela Islam yang belum juga berhenti. Umat Islam yang turun ke jalan bukan sedikit, tercatat aksi itu dihadiri oleh 2 juta orang lebih. Itu merupakan seperempat jumlah penduduk DKI Jakarta. Tapi mereka bukan hanya dari Jakarta, tapi hampir dari beberapa perwakilan seluruh Indonesia. Dan jumlah itu lebih banyak dari jumlah kader salah satu partai di Indonesia. Jadi cukup besar untuk menjadi sebuah partai terlebih jika ingin melakukan pemberontakan kepada Negara Indonesia.
Tapi itu tidak akan terjadi. 2 juta orang lebih yang terus menuntut bela Islam tidak akan memberontak terhadap Negara ini. Saya yakinkan itu. Mengapa? Karena umat Islam di Indonesia ini sudah cukup lama belajar tentang arti berbangsa dan bernegara. Sudah cukup banyak pengorbanan untuk belajar arti berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia. Kita, bangsa Indonesia bahkan terlalu majemuk untuk satu propinsi. Dalam satu propinsi bahkan tidak hanya ada satu bahasa, atau budaya, juga ajaran agama, tapi lebih dari satu dan kita bisa melalui semua itu dengan bijak. Kita bangsa Indonesia sudah belajar. Sudah cukup tua dan cukup bijak dalam bernegara.
Bahkan jika masih ada suatu propinsi yang ingin merdeka dari Negara kesatuan ini, bisa dipastikan itu bukanlah tindakan masyarakat asli, itu merupakan hasutan untuk memecah belah bangsa ini.
Jadi, sekali lagi saya bisa memastikan bahwa ilusi Negara Islam Indonesia hanyalah hembusan angin duduk, angin tak sehat bagi perjalanan kita menuju bangsa yang lebih besar. Kita harus mengencangkan persatuan kebangsaan kita, menutup rapat tubuh bangsa ini dengan jaket nasionalisme yang kokoh.
Negara Islam Indonesia hanyalah ilusi, begitupun dengan Negara Komunis Indonesia, sepakat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar