Bahkan hingga
hari ini ilusi Negara Islam Indonesia masih terus menghantui kita, bangsa
Indonesia. Entah itu memang menghantui atau sengaja dibuat seakan kita
dihantui. Peran penting tentulah dari media. Terlebih sekarang ini di dunia
maya, opini seakan seperti sebuah fakta, sebuah sejarah seakan sebuah dongeng.
Kebenaran tampak buram.
Hoax kita baca
setiap hari. Menjadi sulit membedakan mana kebenaran mana kebohongan. Hanya
hati nurani yang menjadi batasannya. Hati nurani yang mencintai bangsa ini,
bangsa Indonesia.
Bentukan Negara Indonesia
Jika kita
membaca secara bijak, tentu kita akan menemukan satu titik bahwa apapun yang
ditawarkan para pejuang kita dimasa lampau untuk Indonesia adalah sebuah solusi
yang menurut mereka itu yang terbaik untuk Indonesia.
Sekarmadji
Maridjan Kartosoewiryo yang menawarkan Islam sebagai bentukan Negara Indonesia
bukanlah orang yang tidak mengenal ilmu, dia belajar di sekolah Belanda dan
Eropa, aktif di pergerakan nasionalisme seperti Jong Java saat kuliahnya di
Surabaya, juga aktif dalam Serikat Islam. Pengalaman yang didapatkan Kartosoewiryo
bukanlah pengalaman biasa, dia orang luar biasa, sehingga keputusannya untuk
Indonesia menjadi sebuah Negara Islam tentulah merupakan hasil pikiran yang
sudah dipikirkan dengan mendalam.
Akan tetapi
Soekarno menilai bentukan itu bukanlah pilihan yang tepat untuk Indonesia,
Negara Islam bukan bentukan yang tepat untuk Indonesia. Sehingga harusnya
ketika Kartosoewiryo sepakat dengan Soekarno untuk tidak membentuk Negara Islam
asalkan umat Islam diberikan kesempatan menjalankan syariat Islam, tidak
dilanggar oleh Soekarno. Itu harusnya menjadi solusi bersama. Penghilangan
beberapa kata di Piagam Jakarta membuat Kartosoewiryo kecewa lalu memberontak.
Itu hanyalah satu dari sekian pilihan yang bisa dilakukan menurut Kartosoewiryo.
Jiwa juang perlawanan mengalir dalam darahnya. Memberontak bukanlah keinginan,
tapi sikap yang diambil setelah pengingkaran.
Soekarno bukan
seorang atheis. Soekarno adalah seorang Islam yang taat. Dia hanya terlalu
nasionalis untuk mengambil satu bentuk dan mengabaikan bentukan yang lain.
Sehingga dia tidak menyetujui usulan Negara Islam Indonesia begitupun dengan
usulan Negara Komunis Indonesia. Hal ini tentunya juga sudah dipertimbangkan
Soekarno secara matang sebagai seorang Islam dan juga sebagai seorang sosialis
nasionalis. Dan Pancasila adalah kesimpulan akhir yang mutlak untuk bangsa ini.
Indonesia di Masa Depan
Waktu telah
berlalu cukup panjang, 71 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunjukan
kemana arah bangsa ini. Bukan waktu yang sebentar untuk menunjukan apa
indentitas bangsa ini.
Kita sebagai
bangsa Indonesia sudah melalui masa pembelajaran yang panjang, bagi umat Islam
juga bagi bangsa Indonesia pada umumnya.
Hari- hari ini
kita disibukkan dengan aksi bela Islam yang belum juga berhenti. Umat Islam
yang turun ke jalan bukan sedikit, tercatat aksi itu dihadiri oleh 2 juta orang
lebih. Itu merupakan seperempat jumlah penduduk DKI Jakarta. Tapi mereka bukan
hanya dari Jakarta, tapi hampir dari beberapa perwakilan seluruh Indonesia. Dan
jumlah itu lebih banyak dari jumlah kader salah satu partai di Indonesia. Jadi
cukup besar untuk menjadi sebuah partai terlebih jika ingin melakukan
pemberontakan kepada Negara Indonesia.
Tapi itu tidak
akan terjadi. 2 juta orang lebih yang terus menuntut bela Islam tidak akan
memberontak terhadap Negara ini. Saya yakinkan itu. Mengapa? Karena umat Islam
di Indonesia ini sudah cukup lama belajar tentang arti berbangsa dan bernegara.
Sudah cukup banyak pengorbanan untuk belajar arti berbangsa dan bernegara bagi
bangsa Indonesia. Kita, bangsa Indonesia bahkan terlalu majemuk untuk satu
propinsi. Dalam satu propinsi bahkan tidak hanya ada satu bahasa, atau budaya,
juga ajaran agama, tapi lebih dari satu dan kita bisa melalui semua itu dengan
bijak. Kita bangsa Indonesia sudah belajar. Sudah cukup tua dan cukup bijak
dalam bernegara.
Bahkan jika
masih ada suatu propinsi yang ingin merdeka dari Negara kesatuan ini, bisa
dipastikan itu bukanlah tindakan masyarakat asli, itu merupakan hasutan untuk
memecah belah bangsa ini.
Jadi, sekali
lagi saya bisa memastikan bahwa ilusi Negara Islam Indonesia hanyalah hembusan
angin duduk, angin tak sehat bagi perjalanan kita menuju bangsa yang lebih besar.
Kita harus mengencangkan persatuan kebangsaan kita, menutup rapat tubuh bangsa
ini dengan jaket nasionalisme yang kokoh.
Negara Islam
Indonesia hanyalah ilusi, begitupun dengan Negara Komunis Indonesia, sepakat?