Senin, 07 Desember 2015

Nalar

Dia membiarkan kekasihnya memakinya, disimpan dalam sekam
ah, cinta memang buta

Terseok ia mengikuti kekasih yang tak dipahaminya
ah, cinta memang buta

Dia menyesali kekasihnya yang tak disisi
apakah dia belum sadar juga bahwa lelaki semua sama

Dipeluknya erat kekasih yang sesama jenis itu
padahal dia tahu itu tak akan abadi

ah, cinta memang buta

Cinta kah yang buta? sehingga kita tak bernalar?
Ataukah kita yang tak pernah merasa puas?


Senin, 30 November 2015

Mengambil Kebenaran

Kebenaran terbentang jelas di depan mata, apapun bentuknya, datang dari siapa saja, tinggal mengambilnya. Sayangnya tidak semua orang mengambil kebenaran. Dan alasan yang lumrah terdengar adalah "hidayah belum sampai kepada saya". Itu jika kebenaran yang datang adalah sebuah agama. Jika itu adalah sebuah ilmu akan lebih sulit.

Ilmu yang merupakan kebenaran biasanya tak selalu datang dari orang yang bisa dipandang sebagai pembawa kebenaran. Misalnya tak selalu berpeci, tak selalu berdasi, tak selalu berjas, tak selalu berpakaian safari. Dia bisa berupa orang yang berpakaian compang-camping, bisa pula dari seorang anak kecil.

Memilih kebenaran biasanya akan mengorbankan banyak hal, diantaranya adalah kenyamanan. Orang yang terbiasa dan nyaman dengan ketidakbenaran yang selama ini dipilihnya akan merasa ganjil, tak nyaman dan menolak dengan sebuah kebenaran yang datang, Meskipun orang tersebut tahu bahwa dia dalam ketidakbenaran.

Hatinya menolak dan dia akhirnya memilih ketidakbenaran.

Dan ketika orang tersebut sudah memilih siap-siaplah dengan konsekuensinya. Bukankah apapun pilihan kita pasti ada konsekuensinya?


Rabu, 29 April 2015

Beradab

Sewaktu saya menonton Film Titanic dan melihat betapa Rose DeWitt merasa sangat terkekang oleh adab yang mengharuskan wanita sopan, cantik dan menurut pada kemauan keluarga atau ibunya dalam kasus dia saat itu, lantas saya teringat kisah Siti Nurbaya. Gadis Minang yang terpaksa menuruti pinangan tuan tanah untuk membayar utang ayahnya, tak jauh berbeda dengan Rose DeWitt, keluarga bangsawan yang ditinggal mati ayahnya yang bangkrut dan ibunya yang takut miskin memaksa Rose DeWitt menuruti pinangan seorang saudagar kaya yang tak ia cintai.
Seperti juga tidak terimanya Rose DeWitt ketika di kapal Titanic saat jamuan makan malam dia melihat anak perempuan kecil yang dimarahi ibunya karena tidak tabel manner, saya pun demikian, berpikir betapa menyiksanya saat saya masih kecil menghadiri acara keluarga yang mengharuskan saya duduk bersimpuh manis, mengambil makanan paling dekat bukan yang letaknya jauh padahal makanan itu yang saya sukai, bicara dengan baik sopan dan tak berlebihan dalam bersikap, tak melakukan apapun selain mengikuti acara sampai selesai, yup sampai selesai. Meskipun makanan saya sudah habis saya tetap harus menunggu semua orang sepanjang rumah gadang itu selesai makan, itu membosankan dan menyiksa kaki yang sudah keram, juga menyesakkan dada yang ingin segera bebas melakukan hal sesuka hati, pikir saya saat itu.

Jika melihat dua hal itu saya berpikir lantas kenapa kita menyebut orang-orang di barat itu tak berbudaya, mengapa kita menyebut setiap gempuran terhadap adab dan budaya kita, budaya timur, kita sebut serangan western/barat. Bukankah mereka dulu pada dasarnya berbudaya dan beradab, dan juga seperti halnya timur/ketimuran, dulupun barat memandang rendah terhadap perempuan.
Apa yang membedakan timur dan barat? Bedanya hanya satu hal, barat terbuka terhadap hal yang datang, ketika revolusi industri meletus banyak hal yang membuat orang-orang di barat membuka mata, membuka pikiran, dan membuka diri terhadap perkembangan yang ada. Tidak dengan orang timur yang lebih memilih menutup diri. Sehingga sekarang mereka pun lebih bebas, terbuka dan perempuan tidak diremehkan lagi seperti dulu.

Hal lain yang membedakan timur dengan barat adalah bahwa orang-orang barat  adalah orang-orang survive. Kenapa mereka survive? Karena mereka adalah pendatang dan untuk bisa sampai ke benua Amerika itu penuh perjuangan, ada yang bilang pula mereka adalah para penjahat yang dibuang di benua Amerika, what ever lah ya, tapi perlu kita catat, orang yang pergi meninggalkan kampung halamannya lalu sampai di daerah baru tentulah mereka lebih survive dibanding orang yang hanya berdiam di kampungnya.

Dari situ kita bisa melihat bahwa adab bukan hanya milik bangsa timur tapi juga milik bangsa barat, dan jika saat ini mereka tak memandang penting adab itu dikarenakan mereka lebih terbuka, bukan tak beradab.

Saya bukannya menyayangkan mengapa kita masih memegang kukuh adab dan adat, yang saya sayangkan adalah kenapa kita tak ambil yang baik dengan tetap beradab tapi terbuka terhadap apa yang datang, sebuah kemajuan, baik itu dari timur sendiri, dari barat, eropa ataupun dari timur tengah.