Jumat, 08 Maret 2019

Emansipasi Perempuan Sesuai Syariat


Jauh sebelum hari perempuan internasional digaungkan pada 8 Maret 1907, perempuan Islam sudah mencoba menggaungkan kebebasannya pada tahun 610-an.

Pada saat itu, perempuan muslimah berhasil mendapatkan kebebasannya.

Masa itu adalah ketika nabi Muhammad saw. masih hidup. Dan kondisi wanita muslimah digambarkan jelas sekali mendapatkan udara kebebasan.

Berdasarkan sekian banyak kisah, penelitian dan kajian, pada dasarnya yang menjadikan penghalang kebebasan perempuan hingga kini adalah dominasi visi dan persepsi yang bertolak belakang mengenai emansipasi perempuan tersebut.

Saya tidak hanya bicara tentang kebablasan emansipasi yang sering dipertentangkan, saya juga mengatakan bahwa dominasi visi dan persepsi itu juga datang dari laki-laki muslim yang menghalanginya, sekali lagi karena bertolaknya visi persepsi terhadap kebebasan perempuan sesuai dengan ajaran agama, seperti yang telah nabi Muhammad terapkan pada perempuan muslimah ketika nabi Muhammad saw. masih hidup.

Kita semua paham bahwa pemangsa perempuan muslimah adalah kejahiliyahan abad kedua puluh yang memamerkan aurat, melakukan seks bebas, dan mengekor terhadap barat. Namun dari dalam masyarakat muslim itu sendiri penghalang kebebasan perempuan muslimah adalah kejahiliyahan abad keempat belas, yaitu jahiliyah dalam sikap yang berlebihan, keras, dan taklid buta yang dimiliki oleh kaum laki-laki. Kedua jenis jahiliyah tersebut tidak sesuai sama sekali dengan syariat Allah, dan tentunya pemangsa paling ganas terhadap perempuan.

Kebebasan perempuan yang tercatat dalam hadist diantaranya, adalah:
1. Perempuan muslimah pada zaman nabi Muhammad saw menghadiri shalat isya dan subuh di masjid Rasulullah saw.
2. Perempuan muslimah pada zaman nabi Muhammad saw. menghadiri shalat Jum'at dan menghapal surat Qaaf langsung dari mulut Rasulullah saw. sendiri.
3. Perempuan muslimah pada zaman nabi Muhammad saw menghadiri shalat gerhana, meskipun waktunya panjang, bersama Rasulullah saw.
4. Perempuan muslimah beri'tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan di masjid Rasulullah saw.
5. Perempuan muslimah mengunjungi suaminya, yaitu Rasulullah saw., yang sedang beri'tikaf di masjid.
6. Perempuan muslimah memenuhi undangan ke pertemuan umum di masjid yang disampaikan oleh muazin Rasulullah saw.
7. Perempuan muslimah menuntut Rasulullah saw. memberikan pelajaran khusus bagi mereka, sebab kesempatan di masjid lebih banyak dikuasai oleh kaum laki-laki.
8. Perempuan muslimah mendatangi Rasulullah saw. untuk meminta fatwa tentang berbagai masalah, baik yang bersifat pribadi ataupun umum.
9. Perempuan muslimah menyuruh kaum laki-laki berbuat ma'ruf dan melarang mereka dari perbuatan munkar.
10. Perempuan muslimah menerima tamu, di antara mereka terdapat Rasulullah saw., dan menghidangkan makanan kepada mereka.
11. Perempuan muslimah menyediakan rumahnya untuk para tamu yang berasal dari kalangan muhajirin gelombang pertama.
12. Perempuan muslimah duduk bersama suaminya dan ikut santap malam bersama tamunya.
13. Perempuan muslimah melayani tamu laki-laki dalam suatu resepsi perkawinan dan menyuguhkan minuman segar kepada Rasulullah saw.
14. Perempuan muslimah ikut dalam beberapa peperangan Rasulullah saw., bertugas memberi minum para pasukan yang kehausan, mengobati yang terluka, serta mengangkut yang terbunuh dan terluka ke Madinah.
15. Perempuan muslimah memohon kepada Rasulullah saw. untuk mendoakan agar dirinya dapat mati syahid bersama pasukan pertama, dan permohonannya itu dikabulkan oleh Rasulullah saw.
16. Perempuan muslimah menghadiri shalat 'id bersama Rasulullah saw. dan kaum wanita mendapatkan wejangan khusus dari Rasulullah saw. seusai khotbah 'id.
17. Perempuan muslimah diperintahkan oleh Rasulullah saw. --meskipun masih gadis remaja dan dalam pingitan-- supaya keluar menghadiri shalat 'id agar dapat menyaksikan suatu pertemuan yang baik dan mengikuti doa orang-orang mukmin.
18. Perempuan muslimah diperintahkan oleh Rasulullah saw. --meskipun dalam keadaan haid-- supaya keluar menghadiri shalat 'id, tetapi agak menjauh dari tempat shalat. Tempat mereka adalah di belakang jamaah serta ikut bertakhir dan berdoa bersama mereka.

Dan sialnya, hal-hal tersebut diatas terdapat dalam kitab Shahih Muslim beserta Syarah Imam an-Nawawi.

Dan sialnya lagi yang mengejutkan adalah, bahwa hadits-hadits tersebut bertolak belakang sama sekali dengan apa yang kita pahami dan praktekkan selama ini, bahkan dengan apa yang dipahami dan dipraktekkan oleh berbagai kelompok keagamaan dan berbagai aliran, seperti organisasi asy-Syari'ah, Ikhwanul Muslimun, kelompok Sufi, kelompok Salaf, partai pembebasan Islam, dan lain-lain.

Berikut beberapa hadist yang mengutarakan tentang kebebasan perempuan;

Sebagai contoh adalah Aisyah r.a. Dia senang dan mendambakan sekali agar dirinya boleh ikut berjihad, sehingga dia berkata: "Wahai Rasulullah, kami melihat jihad itu adalah amalan yang paling afdal, apakah kami boleh ikut berjihad?" (HR Bukhari).

Selain itu ada Ummu Haram yang ingin mati syahid bersama pasukan marinir. Dia berkata: "Wahai Rasulullah, tolonglah doakan semoga Allah menjadikanku bersama mereka." Lalu Rasulullah saw. mendoakannya." (HR Bukhari).

Lihat pula seorang perempuan yang bekerja dengan tangannya sendiri, kemudian bersedekah dengan hasil usahanya itu. "Adalah Zainab binti Jahasy orang yang paling takwa kepada Allah, paling suka menyambung silaturrahim, paling banyak bersedekah, dan paling suka mengorbankan dirinya untuk melakukan pekerjaan yang dengan pekerjaan itu dia dapat bersedekah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT." (HR Muslim).

Ada pula sejumlah perempuan yang meminta dan mengharapkan diberi kesempatan yang lebih luas lagi untuk menimba ilmu pengetahuan dari Nabi saw. Sejumlah perempuan berkata kepada Nabi saw.: "Kami dikalahkan oleh kaum laki-laki dalam merebut kesempatanmu. Karena itu tolonglah engkau sediakan harimu untuk kami." (HR Bukhari dan Muslim).

Ada lagi sejumlah perempuan yang bersedekah dan berkorban lebih banyak daripada kaum laki-laki. Rasulullah saw. bersabda:
"Bersedekahlah, bersedekahlah kalian (kaum laki-laki), sebab yang sudah banyak bersedekah adalah dari kalangan perempuan." (HR Muslim).

Dan kini, di hari perempuan internasional ini semoga kita, laki-laki dan perempuan, bisa mengembalikan kebebasan perempuan seperti yang seharusnya.

Selamat hari perempuan internasional 2019.

Sumber: Kebebasan Wanita (Tahrirul-Ma'rah fi 'Ashrir-Risalah) Abdul Halim Abu Syuqqah (luk.tsipil.ugm.ac.id/kmi/islam/Wanita/W1/Pendahuluan.html)

Senin, 25 Februari 2019

Menagih Kesejahteraan Bangsa dari Sekedar Menyumbang Kuota Pulsa


Tiap anak sebenarnya punya mimpinya sendiri. Entah menjadi apa, mungkin orangtua tak tahu, atau mungkin orangtua malah tak mau mengerti. Tapi bukankah seharusnya itulah yang orangtua lakukan untuk anaknya, mengantarkan anak-anak pada mimpi mereka.

Kita mungkin sudah pernah mendengar, anak-anak adalah anak zamannya. Apakah zaman mereka zaman yang penuh teknologi, seperti sekarang ini, atau zaman yang penuh perjuangan, seperti zamannya Bung Karno dan Bung Hatta, orangtua tak sepenuhnya tahu.

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan seorang ibu yang sedang menghadapi anak perempuannya yang tidak mau mendengarkan saran ibunya agar anaknya kuliah jurusan bahasa Inggris, karena menurut ibunya, anaknya tersebut pintar bahasa Inggris.

Mungkin saran ibu tersebut terlihat benar, begitupun dimata kita semua, juga terlihat benar. Tapi begitu kita bertanya pada sang anak, sang anak berkata ingin kuliah jurusan politik.

Sang anak berkata, dia ingin membangun bangsa, mengabdi pada negaranya, Indonesia.

Dan jawaban ibunya atas mimpi sang anak tersebut terdengar realistis bagi semua orang, "negaramu nggak akan ngasih kamu makan nak! Kamu mau makan apa dari bangsamu ini. Kamu perlu cari makan sendiri!."

Sang anakpun tidak bisa mendebat ibunya, meskipun dia sudah cukup besar untuk menjawab perkataan ibunya.

Ya, kita cukup tahu nasib para pejuang bangsa, mati miskin, mati dipenjara, atau mati di pengasingan. Sengsara, sangat sengsara.

Lantas, tak perlu lagi kini kita bertanya, siapa yang akan memimpin bangsa ini karena kita sibuk memikirkan diri kita sendiri.

Karena masing-masing kita sibuk mengisi perut kita sendiri, toh kalau kita tua, anak-anak kita harus memberi kita makan dengan kemapaman mereka.

Atau mungkin masing-masing orangtua sibuk memikirkan agar di akhirat kelak dipakaikan mahkota oleh anak-anak mereka, tak perlu pikirkan bangsa dan dunia ini.

Kita mungkin perlu sadar, bangsa ini tidak akan besar jika kita hanya menyumbangkan kuota untuk menghujat lawan pilihan politik kita di medsos.

Bangsa tidak bisa dibangun hanya dengan sekedar memilih pada pemilu. Beberapa contoh negara yang hanya mengandalkan pemilu, terpuruk hari ini, jangankan berangan pemimpin beragama, berangan esok bisa selamat saja sudah beruntung.

Terpikirkah oleh sang ibu tersebut dan oleh kita semua, jika orangtua para pejuang bangsa kita dulu, berkata sama seperti ibu tersebut pada anak-anak mereka, agar tak perlu menjadi pejuang yang sangat menyiksa itu, tak perlu menjadi pejuang yang menghilangkan hargadiri bahkan nyawanya itu, mungkin hari ini kita belum merdeka?!

Andai, ibu itu mendengarkan anaknya tersebut. Mungkin beberapa tahun lagi, kita sudah memiliki patriot bangsa yang memperjuangkan bangsa ini.

Mungkin beberapa tahun kemudian, bangsa ini sudah menjadi lebih besar, karena anak-anak yang lain yang juga berjuang meraih mimpinya didukung oleh keluarga dan orang-orang sekitar mereka.

Mungkin bangsa ini sudah melesat maju dengan patriot-patriot bangsa yang berjuang dengan kesungguhan jiwa raga mereka.

Oleh sebab itu tak perlu kita orangtua masih memaksakan kehendak kita akan menjadi apa anak kita, akan sekolah dimana anak-anak kita.

Mungkin kita sudah terlalu lama bermain hunger games, sehingga racun "ketakutan" tak juga hilang dari pikiran kita.

Mungkin kita perlu bertanya pada anak-anak kita mau menjadi apa mereka dan ingin sekolah dimana mereka.

Untuk orangtua, anak muda, dan siapapun putra putri bangsa ini, mari kita sama-sama berjuang untuk bangsa kita, kemajuan negara ini.

Mari kita siapkan pemimpin-pemimpin bangsa sejak dini, mari kita pikirkan bangsa ini dengan berfikir apa yang bisa kita berikan untuk negara, bukan apa yang bisa kita dapat dari negara ini.

Sekarang ini adalah masa-masa untuk persiapan sekolah baru, mulai pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Selamat mencari sekolah baru untuk para orangtua dan selamat mengejar mimpi untuk anak-anak Indonesia.