Memahami kebencian kelompok nasionalis di Indonesia terhadap HTI, harus kita akui sama seperti memahami kebencian kelompok islam garis keras di Indonesia yang membenci PKI, Komunis, beserta gerakan-gerakan serupa, menurut kelompok islam garis keras di Indonesia tersebut.
***
Sejarah Indonesia terpampang jelas terkait dua hal yang dilarang Orde Baru dulu; NII dan PKI.
Langkah pelarangan NII dan PKI tersebut menurut saya, adalah salah satu kebijakan terbaik Soeharto, bapak Pembangunan Indonesia. Meskipun, asas tunggal banyak memakan korban. Tapi seperti halnya perjuangan kita menuju kemerdekaan, begitu pula mempertahankan kemerdekaan, jatuh korban adalah hal yang tidak bisa dihindari.
Pemilu pertama di Indonesia menjadi kaca, bahwa Indonesia terbagi dua kubu, kemenangan Islam dan Nasionalis yang hanya berbeda tipis. Saat itu nasionalis nampak seperti komunis. Dan tidak sedikit, hari ini, kubu islam masih membaca nasionalis sama dengan komunis.
****
Setelah kemerdekaan Indonesia, pemberontakan islam yang dikenal dengan DII/TII terjadi di sebagian Indonesia. Yang memadamkan pemberontakan tersebut bukan mustahil juga punya kecenderungan dengan pilihannya menjadi nasionalis atau islamis, dan pengaruh daerah asal tentara tersebut sedikit banyak tentunya mempengaruhi juga dalam pilihan politik mereka, apakah menjadi islamis atau nasionalis. Maklum, kita baru merdeka. Garis bangsa baru terbentuk, penyesuaian tentulah perlu waktu.
Saya teringat cerita ayah saya yang menceritakan kakek saya (almarhum), tentara bersuku Sumatera, dalam tugasnya menumpas DII/TII di Sumatera. Kakek berkata ketika perintah menumpas DII/TII turun, tentara di Sumatera bukannya menumpas DII/TII tapi malah mengulur-ulur waktu dan tidak melakukan penumpasan DII/TII. Dan ketika ransum tentara habis dalam penguluran perang di hutan, mereka diberi makan oleh rakyat sekitar gunung. Tidak ada bentuk peperangan terhadap DII/TII yang terjadi.
Karena lamanya penumpasan DII/TII yang tak kunjung selesai, Soekarno berang, lalu menarik tentara Sumatera tersebut untuk kemudian digantikan dengan mengirim Ahmad Yani untuk memimpin penumpasan DII/TII bersama tentara-tentara dari pulau Jawa. Tidak menunggu lama tumpaslah DII/TII.
Dalam sejarah mungkin nampak tentara menumpas islam garis keras.
Tapi satu hal yang perlu dipahami saat ini adalah, tentara-tentara di Sumatera saat itu tidak memerangi DII/TII bukan karena mereka tidak cinta NKRI, tapi karena mereka membenci PKI. Pemetaan secara samar saat itu bahwa pilihan hanya ada dua, PKI atau Islam. Membuat tentara di Sumatera bersikap enggan menumpas DII/TII.
****
Membaca islam bukan garis keras di Indonesia tidak semudah yang dikira. Begitupun membaca nasioalis di Indonesia, sama sulitnya.
Perjuangan perempuan Indonesia memakai hijab adalah salah satu buktinya.
Satu bentuk kesadaran keislaman seseorang, seperti berhijab, secara naluriah, memancing kecurigaan seorang nasionalis, apalagi seorang komunis sebenarnya.
Perempuan berhijab dianggap radikal, terlebih jika berhijab lebar, berkaus kaki, apalagi bercadar.
Begitupun kesadaran nasionalis seseorang, seperti ber-Pancasila, memancing kecurigaan seorang islamis, apalagi seorang islam garis keras sebenarnya.
Seseorang ber-Pancasila dianggap murtad, menantang Islam.
****
Penyadaran harusnya terjadi di kalangan intelektual, kita semua yang berpendidikan, kita semua yang ada di kota-kota.
Sejarah ulama yang memimpin pengusiran penjajah, yang telah dihapus oleh pengadu domba rakyat, harusnya kini diakui oleh semua pihak, apapun pilihan politiknya. Jangan lupakan sejarah, seperti kata Soekarno.
Keterbukaan juga harusnya terjadi di kalangan intelektual.
Jangan sampai kita terjebak dan menjadi buta akan pilihan posisi kita saat ini. Indonesia sudah selesai membahas garis yang diambil, pergulatan itu cukup panjang, dan melelahkan bagi para pejuang penentu garis bangsa saat itu. Sangat melelahkan.
Kita sudah selesai dengan masa itu. Bahkan kita sudah selesai dari masa penentuan garis bangsa, hingga pembangunan bangsa.
Indonesia sudah selesai dengan memilih Pancasila.
Hilangkan kecurigaan terhadap kesadaran keislaman ataupun kenasionalisan seseorang.
Biarkan penegak hukum menumpas yang tidak seharusnya ada di negeri ini, para pemilih garis keras, ke kanan ataupun ke kiri. Islam garis keras ataupun PKI.
Mari kita berdiri di tengah bersama-sama membawa bangsa kita menuju pemimpin global dunia. Selesaikan pertikaian ini, terangkan pikiran kita, lapangkan dada kita, untuk Indonesia jaya.
***
Sejarah Indonesia terpampang jelas terkait dua hal yang dilarang Orde Baru dulu; NII dan PKI.
Langkah pelarangan NII dan PKI tersebut menurut saya, adalah salah satu kebijakan terbaik Soeharto, bapak Pembangunan Indonesia. Meskipun, asas tunggal banyak memakan korban. Tapi seperti halnya perjuangan kita menuju kemerdekaan, begitu pula mempertahankan kemerdekaan, jatuh korban adalah hal yang tidak bisa dihindari.
Pemilu pertama di Indonesia menjadi kaca, bahwa Indonesia terbagi dua kubu, kemenangan Islam dan Nasionalis yang hanya berbeda tipis. Saat itu nasionalis nampak seperti komunis. Dan tidak sedikit, hari ini, kubu islam masih membaca nasionalis sama dengan komunis.
****
Setelah kemerdekaan Indonesia, pemberontakan islam yang dikenal dengan DII/TII terjadi di sebagian Indonesia. Yang memadamkan pemberontakan tersebut bukan mustahil juga punya kecenderungan dengan pilihannya menjadi nasionalis atau islamis, dan pengaruh daerah asal tentara tersebut sedikit banyak tentunya mempengaruhi juga dalam pilihan politik mereka, apakah menjadi islamis atau nasionalis. Maklum, kita baru merdeka. Garis bangsa baru terbentuk, penyesuaian tentulah perlu waktu.
Saya teringat cerita ayah saya yang menceritakan kakek saya (almarhum), tentara bersuku Sumatera, dalam tugasnya menumpas DII/TII di Sumatera. Kakek berkata ketika perintah menumpas DII/TII turun, tentara di Sumatera bukannya menumpas DII/TII tapi malah mengulur-ulur waktu dan tidak melakukan penumpasan DII/TII. Dan ketika ransum tentara habis dalam penguluran perang di hutan, mereka diberi makan oleh rakyat sekitar gunung. Tidak ada bentuk peperangan terhadap DII/TII yang terjadi.
Karena lamanya penumpasan DII/TII yang tak kunjung selesai, Soekarno berang, lalu menarik tentara Sumatera tersebut untuk kemudian digantikan dengan mengirim Ahmad Yani untuk memimpin penumpasan DII/TII bersama tentara-tentara dari pulau Jawa. Tidak menunggu lama tumpaslah DII/TII.
Dalam sejarah mungkin nampak tentara menumpas islam garis keras.
Tapi satu hal yang perlu dipahami saat ini adalah, tentara-tentara di Sumatera saat itu tidak memerangi DII/TII bukan karena mereka tidak cinta NKRI, tapi karena mereka membenci PKI. Pemetaan secara samar saat itu bahwa pilihan hanya ada dua, PKI atau Islam. Membuat tentara di Sumatera bersikap enggan menumpas DII/TII.
****
Membaca islam bukan garis keras di Indonesia tidak semudah yang dikira. Begitupun membaca nasioalis di Indonesia, sama sulitnya.
Perjuangan perempuan Indonesia memakai hijab adalah salah satu buktinya.
Satu bentuk kesadaran keislaman seseorang, seperti berhijab, secara naluriah, memancing kecurigaan seorang nasionalis, apalagi seorang komunis sebenarnya.
Perempuan berhijab dianggap radikal, terlebih jika berhijab lebar, berkaus kaki, apalagi bercadar.
Begitupun kesadaran nasionalis seseorang, seperti ber-Pancasila, memancing kecurigaan seorang islamis, apalagi seorang islam garis keras sebenarnya.
Seseorang ber-Pancasila dianggap murtad, menantang Islam.
****
Penyadaran harusnya terjadi di kalangan intelektual, kita semua yang berpendidikan, kita semua yang ada di kota-kota.
Sejarah ulama yang memimpin pengusiran penjajah, yang telah dihapus oleh pengadu domba rakyat, harusnya kini diakui oleh semua pihak, apapun pilihan politiknya. Jangan lupakan sejarah, seperti kata Soekarno.
Keterbukaan juga harusnya terjadi di kalangan intelektual.
Jangan sampai kita terjebak dan menjadi buta akan pilihan posisi kita saat ini. Indonesia sudah selesai membahas garis yang diambil, pergulatan itu cukup panjang, dan melelahkan bagi para pejuang penentu garis bangsa saat itu. Sangat melelahkan.
Kita sudah selesai dengan masa itu. Bahkan kita sudah selesai dari masa penentuan garis bangsa, hingga pembangunan bangsa.
Indonesia sudah selesai dengan memilih Pancasila.
Hilangkan kecurigaan terhadap kesadaran keislaman ataupun kenasionalisan seseorang.
Biarkan penegak hukum menumpas yang tidak seharusnya ada di negeri ini, para pemilih garis keras, ke kanan ataupun ke kiri. Islam garis keras ataupun PKI.
Mari kita berdiri di tengah bersama-sama membawa bangsa kita menuju pemimpin global dunia. Selesaikan pertikaian ini, terangkan pikiran kita, lapangkan dada kita, untuk Indonesia jaya.