Senin, 30 November 2015

Mengambil Kebenaran

Kebenaran terbentang jelas di depan mata, apapun bentuknya, datang dari siapa saja, tinggal mengambilnya. Sayangnya tidak semua orang mengambil kebenaran. Dan alasan yang lumrah terdengar adalah "hidayah belum sampai kepada saya". Itu jika kebenaran yang datang adalah sebuah agama. Jika itu adalah sebuah ilmu akan lebih sulit.

Ilmu yang merupakan kebenaran biasanya tak selalu datang dari orang yang bisa dipandang sebagai pembawa kebenaran. Misalnya tak selalu berpeci, tak selalu berdasi, tak selalu berjas, tak selalu berpakaian safari. Dia bisa berupa orang yang berpakaian compang-camping, bisa pula dari seorang anak kecil.

Memilih kebenaran biasanya akan mengorbankan banyak hal, diantaranya adalah kenyamanan. Orang yang terbiasa dan nyaman dengan ketidakbenaran yang selama ini dipilihnya akan merasa ganjil, tak nyaman dan menolak dengan sebuah kebenaran yang datang, Meskipun orang tersebut tahu bahwa dia dalam ketidakbenaran.

Hatinya menolak dan dia akhirnya memilih ketidakbenaran.

Dan ketika orang tersebut sudah memilih siap-siaplah dengan konsekuensinya. Bukankah apapun pilihan kita pasti ada konsekuensinya?